Polemik 500 TKA, GP Ansor : Mahasiswa Harus Punya Semangat Kolaborasi

23

KENDARI – Kedatangan tenaga kerja asing (TKA) asal China yang akan bekerja di PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS) mendapat beberapa kali penolakan dari beberapa kelompok mahasiswa. Menanggapi hal tersebut, Ketua GP Ansor Rahmat Hidayat Pulungan mengatakan, mahasiswa sebagai kalangan terdidik harus terbuka untuk berkolaborasi.

“Putra-putra terbaik dari Sultra itu harus juga sadar bahwa kesempatan itu tidak datang dua kali. Kalau mereka terlalu kuat menolak dan terus menerus kayak gini, orang akan mikir, ‘saya ngapain ya berinvestasi di Sultra?’”, ujar Rahmat saat dihubungi pada Senin (29/6).

Menurutnya, Pulau Sulawesi khususnya Sulawesi Tenggara diberi keberkahan yang luar biasa berupa sumber daya alam yang berlimpah yaitu nikel. Dengan dibangunnya smelter di sana, hal itu merupakan kesempatan yang bagus untuk peningkatan ekonomi masyarakat Sultra.

“Kesempatan kan ini harus dipakai sebaik-baiknya oleh masyarakat lokal. Jadi cara melihatnya yaitu smelter ini sebagai alat untuk memakmurkan masyarakat. Kemudian juga sebagai alat untuk mengembangkan masyarakat,” terangnya.

Rahmat juga mengatakan bahwa penggunaan tenaga kerja asing dalam sebuah proyek investasi merupakan praktek yang sangat biasa terjadi di seluruh dunia karena hal tersebut terkait dengan penuntasan sisa pekerjaan dari pembangunan smelter.

“Nanti setelah terpasang dan yang kedua ada transfer teknologi ya kan, pasti mereka pulang,” ujarnya lugas.

Rahmat mengajak mahasiswa untuk berbesar hati dan menangkap investasi yang hadir merupakan kesempatan emas yang tidak datang dua kali. Meskipun demikian Ia juga menyarankan kepada pihak perusahaan, dalam hal ini PT VDNI dan PT OSS sebagai pihak yang mendatangkan TKA untuk terus membuka ruang diskusi kepada masyarakat. Terutama dengan kalangan mahasiswa yang sampai kini masih terus resisten kedatangan 500 TKA asal China.

“Pihak smelter dalam hal ini VDNI dan OSS harus menangkap dengan cermat bahwa penolakan ini berasal dari masyarakat kelas menengah yang mempunyai pendidikan yang baik. Artinya ada persoalan yang harus dibahas lebih lugas. Pasti nanti ada solusinya,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, 156 TKA dari total 500 TKA telah datang ke Sulawesi Tenggara melalui Bandara Halu Oleo pada minggu lalu telah menjalani protokol yang ditetapkan pemerintah. Kedatangan TKA tersebut nantinya akan segera menyerap sebanyak tiga ribu hingga lima ribu tenaga kerja lokal untuk mempercepat pembangunan pabrik smelter. Saat ini TKA tersebut sedang menjalani masa karantina di area pabrik sebelum ditetapkan berstatus sehat dan dapat memulai pekerjaannya.

Tim Redaksi

Apa Komentar dan Pendapat Anda